Wah Gawat.. DAK di SMPN 1 Terbanggibesar Rp. 276 Juta di Korupsi?

Bangunan rehab ruang kelas di SMPN 01 Terbanggibesar Rp. 276 Juta itu banyak ditemukan material dan kualitas bangunan yang tidak sesuai dengan RAB nya. Salah satu temuan yaitu, tiang cor beton yang tipis dan rapuh. (Foto. dok Tipikornewsonline)


LAMPUNG TENGAH – Pengelolaan pembangunan yang berasal dari DAK tahun 2017 senilai Rp 276 juta di SMNP Negeri 01 Terbanggibesar diduga kuat telah dikorupsi oknum Kepsek Budiono.

Hal ini diketahui saat Ketua Komisi IV DPRD Lamteng Dedi D. Saputra bersama anggota komisi lainnya belum lama ini mendatangi sekolah tersebut, pihaknya mengaku sangat terkejut melihat bangunan rehab ruang kelas di SMPN 01 itu banyak sekali ditemukan material dan kualitas bangunan yang tidak sesuai dengan RAB nya.

Ketua Komisi IV DPRD Lamteng Dedi D. Saputra bersama anggota komisi lainnya saat sidak di SMPN 1 Terbanggibesar, Lamteng belum lama ini. Foto: Istimewa


Dari hasil Sidak tersebut, selain panitia yang memang tidak dilibatkan, hasil sidak di lapangan ditemukan permasalahan yang memang menjadi pengaduan dari masyarakat.

Seperti yang dilansir radarlamteng.com Ketua Komisi IV DPRD Lamteng Dedi D. Saputra mengatakan, setelah kita telusuri dari hasil sidak, pihaknya akan mempelajari dan cross cek RAB nya sesuai atau tidaknya nanti akan kita sampaikan kepada pihak yang berwajib, yang pasti sanksi pidana jika memang terbukti.

“Dari awal mekanismenya sudah salah, karena anggaran dikuasai kepala sekolah bukan panitia pembangunan, kita tunggu hasilnya dalam waktu sepekan ini,” tandasnya

Tiang Cor Beton Yang Tipis Dan Rapuh

Pembangunan rehab ruang kelas di SMPN 01 Terbanggibesar yang dikenal dengan SMPN 1 Poncowati diduga tidak transparan. Meski pembangunan telah dilaksankan dengan anggaran senilai Rp 276 juta, namun panitia pelaksana yang ditunjuk Budiono (kepala sekolah), mengaku tidak tahu soal pembangunan itu.

Berdasarkan laporan warga setempat, Kepala Kampung Poncowati Gunawan Pakpahan, mengunjungi SMPN 01 Poncowati, untuk melihat hasil bangunan. Ternyata, saat dilakukan inspeksi mendadak (sidak) ditemukan bangunan yang direhab tidak sesuai dengan standar.

Salah satu temuan yaitu, tiang cor beton yang tipis dan rapuh. Yang lebih miris lagi, saat Kakam Gugun (sapaan akrabnya) menanyakan para pekerja yang berasal dari luar Kampung Poncowati, dan menurut para pekerja mereka dibayar borongan dalam pembangunan rehab ruang kelas.

”Harusnya para pekerja ini berasal dari warga Kampung Poncowati bukan dari luar kampung. Jika kita memakai tenaga kerja dari kampung sendiri pembangunan bisa terkoordinir dengan baik, minimal untuk memberdayakan masyarakat sekitar sebagai fungsi kontrol sosial,” ujar Gugun.

Sementara itu, salah satu pekerja yang enggan disebutkan namanya mengaku, dalam pelaksanaan rehab ruang ruang kelas dirinya diminta kepala sekolah untuk mengerjakan bangunan dengan ongkos Rp 20 juta sampai selesai.

”Kalau untuk ongkos tukang, harga segitu tidak sesuai. Saya waktu itu meminta Rp 25 juta, namun ditawar dengan nilai Rp 15 juta. Akhirnya, hasil tawaran disepakati Rp 20 juta, itupun Pak Budi (kepala sekolah) yang meminta tolong agar dibantu. Saya mau bantu juga karena gak enak sama beliau yang memang sudah kenal lama dengan saya, apalagi melihat jabatan yang baru diperolehnya,” terangnya.

Kepsek Budiono

Kepala Sekolah SMPN 01 Poncowati Kecamatan Terbanggibesar, Budiono mengatakan bahwa pembangunan ini berasal dari DAK tahun 2017 senilai Rp 276 juta. Namun ia menampik bahwa panitia pelaksana sudah terbentuk dan telah dirapatkan. Meski anggota yang ia tunjuk mengaku bahwa tidak pernah sama sekali diadakan rapat untuk pembangunan rehab ruang kelas.

”Kami telah mengadakan rapat, dan memang uang DAK saya yang pegang. Jika mau belanja mereka tinggal meminta dengan saya, ini hanya miskomunikasi saja. Tidak benar itu jika mereka bilang tidak pernah rapat,” terangnya.

Kemudian, lanjutnya, pembangunan ini baru dilaksanakan dan masih pencairan tahap pertama. Selama ini, SK mereka ada dan memang belum diberikan, namun saya sudah meminta secara lisan kepada panitia yang ditunjuk untuk membantu mengerjakan.

”Semua pengeluaran anggaran ada yang mencatat, tapi berapa pengeluaran dan pemasukan kita belum tahu karena masih belum dihitung,” tandasnya. (Istimewa)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan