Terjerat Kasus Dugaan Pungli, Begini Modus Kepsek Ali Rosad Hindari Wartawan

LAMPUNG TENGAH – Menanggapi pemberitaan disejumlah media cetak dan online terkait maraknya aksi pungutan liar (Pungli) yang terjadi di SMKN 2 Terbanggi Besar Kabupaten Lampung Tengah beberapa waktu lalu, Kepala Sekolah (Kepsek) Ali Rosad instruksikan petugas keamanan menutup gerbang pintu masuk sekolah.

Diduga hal tersebut dilakukan pihaknya untuk menghindari pertanyaan dari para awak media yang hendak meliput informasi dugaan aksi pungli dimasa pandemi covid19 yang membebani masyarakat khususnya bagi para walimurid/ orang tua siswa SMKN 2 Terbanggi Besar.

Berdasarkan pantauan dilapangan, nampak terlihat adanya banner imbauan yang dipasang tepat di pintu gerbang masuk sekolah bertuliskan, Selama pandemi belum berakhir tamu yang tidak diundang dilarang masuk Area SMKN 2 Terbanggi Besar. (PASAL 167 KUHP).

Seperti yang diungkapkan Kholidi yang merupakan salah satu wartawan media online mengatakan, dirinya sangat heran dengan peraturan yang diterapkan pihak SMKN 2 Terbanggi Besar tersebut.

“Tentunya tindakan tersebut sangat janggal dan aneh. Bisa dicek disekolah-sekolah yang di Lampung Tengah bahkan diseluruh Indonesia pun saya yakin tidak ada. Mengapa peraturan itu hanya ada di SMKN 2 Terbanggi Besar? Tindakan oknum kepsek ini menghalangi tugas wartawan,” tanya Kholidi dengan tatapan mata yang penuh kecurigaan.

Lebih lanjut Kholidi menjelaskan, hal ini diketahuinya ketika ia hendak meliput terkait maraknya dugaan Pungli berkedok Iuran Pembiayaan Pendidikan (IPP) di masa pandemi covid-19 di SMKN 2 Terbanggi Besar, tidak seperti biasanya, saat itu kami tidak diperbolehkan oleh petugas kemananan untuk masuk kearea sekolah tersebut.

Video Terkait:

“Menurut informasi Satpam sekolah setempat mengatakan, bahwa kepala sekolah sudah menginstruksikan jika tamu yang tidak memiliki undangan secara resmi jangan di perbolehkan masuk,” cetusnya.

Sehingga, sambung Kholidi, dirinya meminta tolong kepada Satpam agar dapat menyampaikan kepada Kepsek Ali Rosad untuk bisa memberikan izin kepada dirinya bersama beberapa teman-teman wartawan lainnya untuk wawancarai terkait dugaan pungli ini. Namun lagi-lagi kepala sekolah tidak mau ditemui untuk diwawancarai oleh wartawan manapun.

Dari sikap Oknum Kepsek yang diduga menjadi otak pelaku aksi pungli di SMKN 2 Terbanggi Besar secara besar-besaran ini, sangat menyayangkan atas sikap dan kebijakan yang dilakukan Kepsek Ali Rosad.

“Jika memang dirinya merasa bersih dan tidak bersalah, seharusnya Ali Rosad sebagai kepala sekolah SMKN 2 Terbanggi Besar bisa lebih transparan serta terbuka terhadap masyarakat terkait apa yang sebenarnya terjadi. Terutama masalah pengelolaan kegiatan sekolah yang biayanya dibebankan kepada wali murid,” jelasnya.

Selain itu, Kholidi juga menambahkan, jika memang bantuan dari pemerintah masih tidak cukup, lalu maunya pihak SMKN 2 Terbanggi Besar berapa banyak anggaran yang dibutuhkan.

“Dikemanakan anggaran dari pemerintah pusat serta provinsi seperti diantaranya BOS Regular, Afirmasi dan Kinerja, DAK Fisik/non fisik, PIP, Beasiswa serta CSR dari perusahaan-perusahaan selama ini?” bebernya.

Hal tersebut tentunya akan menimbulkan tanda tanya besar, sebenarnya apa alasanya Kepala SMKN 2 Terbanggi Besar Ali Rosad yang mendadak menginstruksikan jika tamu tidak diundang secara resmi dilarang masuk.

“Itu sekolah memangnya punya pribadi Ali Rosad. Mungkin dikiranya sekolah milik pemerintah itu (SMKN 2 Terbanggi Besar) bisa berdiri karena dari uang kantong pribadinya. Jika memang benar, itu artinya Kepsek Ali Rosad saat ini sudah benar-benar gelap mata,” pungkas Kholidi dengan nada geram.

Sementara, sampai berita ini ditayangkan dan dampak dari instruksinya, Kepsek Ali Rosad belum bisa dikonfirmasi karena tidak dapat ditemui. (RED)

Video Terkait:

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan