Penjara 42 Bulan untuk Koruptor Dana BOS Terlalu Ringan


Penjara 42 Bulan untuk Koruptor Dana BOS Terlalu Ringan

LAMPUNG, Tipikornewsonline – Mantan Kepala Kepala SMP Negeri 24 Bandar Lampung ini didakwa jaksa bersalah karena mengorupsi dana BOS. Rupanya, putusan hakim lebih rendah dari tuntutan jaksa yakni tujuh tahun enam bulan penjara.

Jaksa penuntut umum dipastikan mengajukan banding karena majelis hakim hanya memvonis tiga tahun enam bulan atau 42 bulan untuk Helendrasari.

“Kami akan mengkaji dulu. Biasanya kalau putusan di bawah dua pertiga dari tuntutan, kami banding,” ujar jaksa Eka Aftarini di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Lampung, belum lama ini.

Jaksa sangat tidak menerima karena dalam putusannya, majelis hakim membebaskan Helen dari dakwaan primair pasal 2 jo Pasal 18 Undang-Unang RI No.20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP jo Pasal 64 Ayat (1) KUHP.

“Di tuntutan kami jerat dengan pasal 2 UU Tipikor. Tapi dalam putusannya, majelis hakim menyatakan terdakwa terbukti pasal 3 UU Tipikor. Ini akan jadi pertimbangan kami mengajukan banding,” ujar Eka.

Terbukti Korupsi Dana BOS, Mantan Kepala SMPN 24 Coreng Citra Guru

Mantan Kepala SMPN 24 Bandar Lampung, Helendrasari, telah merusak citra aparatur sipil negara karena mengkorupsi dana bantuan operasional sekolah.

“Perbuatan terdakwa merusak citra para ASN khususnya para guru dan kepala sekolah,” ujar hakim ketua Virza Noviansyah saat membacakan putusan untuk Helen di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Lampung, belum lama ini.

Majelis hakim dalam pertimbangannya menilai perbuatan korupsi Helen tak terbukti melanggar dakwaan primair Pasal 2 jo Pasal 18 UU RI No.20 Tahun 2001.

Dikatakannya, ada satu unsur pada pasal 2 Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi yang tidak terpenuhi, yaitu perbuatan melawan hukum. Perbuatan Helen adalah penyalahgunaan wewenang.

Helen terbukti memerintahkan anak buahnya terdakwa Ayu untuk membuat kuitansi fiktif dan nota palsu dari berbagai toko sebagai bahan laporan pertanggungjawaban.

Belakangan terungkap Helen mengambil sendiri uang pencairan dana BOS sebanyak 11 kali pencairan. Ia menyuruh Ayu mengelola dana BOS Rp 10 juta setiap bulannya, sedangkan anggaran yang cair Rp 1,8 miliar.

Dari jumlah tersebut, Helen menikmati uang sebesar Rp 748 juta dan terdakwa lainnya yaitu Ayu sebesar Rp 110 juta. Hakim memvonisnya pidana penjara selama tiga tahun dan enam bulan. (Ist)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan