DIDUGA LIMBAH GETAH KARET CEMARI LINGKUNGAN NAMBAH DADI

ilustrasi

TERBANGGI BESAR, Tipikornewsonline – Upaya pembuatan IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah)  berlandaskan pada UU No. 20/1990 tentang Pengendalian Pencemaran Air (pasal 17) yang bunyinya “Setiap orang atau badan yang membuang limbah cair wajib menaati baku mutu limbah cair sebagaimana ditentukan dalam izin pembuangan limbah cair yang ditetapkan baginya”.

Kemudian berdasarkan undang-undang No 23 tahun 1997 Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup pasal 18 tentang perijinan dan pasal 25 tentang sanksi serta Undang-undang No 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup pasal 98, pasal 99 dan pasal 102.

Meskipun Pengelolaan Lingkungan Hidup sudah di atur oleh undang-undang di atas,  hal ini tidak membuat para pengusaha yang menghasilkan limbah gentar dan terkesan acuh dengan keberadaan limbahnya yang tidak dikelola sedemikian rupa, padahal undang-undang tersebut sudah jelas-jelas ada sanksi pidana dan sanksi denda milyaran rupiah.

Pantauan Tim Fored Lampung Tengah (29/3), kondisinya sangat memprihatinkan dan menjijikkan terlihat dilapak karet di Kampung Nambah Dadi, Kecamatan Terbanggi Besar, Kabupaten Lampung Tengah, Lampung.

Ironisnya lagi, limbah itu dialirkan ke aliran Sungai yang berada di Kampung itu. Akibatnya selain mencemari aliran sungai, udara yang ada di sekitar lingkungan, lapak karet tersebut mengeluarkan  bau tidak sedap yang tercium di perkampungan warga. Namun demikian, pihak terkait belum memberikan sanksi meski hal itu mengganggu kenyamanan masyarakat sekitarnya.

Jika hal ini terus di biarkan, maka warga di sekelilingnya akan merasakan dampak sehingga membahayakan kesehatan masyarakat yang menggunakan air sumurnya untuk kebutuhan sehari-hari.

Menurut keterangan salah satu warga setempat yang enggan menyebut namanya mengatakan, “Praktek ini harus segera dihentikan  dan Pemerintah Daerah Lampung Tengah serta pihak-pihak terkait lainnya harus bertindak tegas sesuai dengan peraturan dan Undang-undang yang berlaku.”

Sementara ketika dikonfirmasi pemilik lapak getah karet mengatakan, bahwa lapak yang dimilikinya sudah ada izin dari pihak kampung setempat. Dan dikatakannya juga bahwa segera mungkin lapak miliknya akan segera dipindahkan ketempat yang jauh dari permukiman warga sehingga tidak lagi mencemari lingkungan.

Namun, kurang lebih dari satu bulan kemudian ketika dipantau lagi, ternyata lapak getah karet tersebut masih beroperasi di lokasi yang sama. Dan justru malah pemilik lapak ini menunjukkan surat-surat kelengkapan izin usahanya dari Pemkab Lamteng, dan terlihat semakin banyak getah karet yang menumpuk digudangnya.

Selain menurut keterangan narasumber yang patut dipercaya ini, bahwa izin usaha pemilik getah karet itu baru terbit atau dimilikinya kurang lebih baru beberapa bulan ini. Jika dibandingkan dengan usahanya tersebut sudah sekian lama beroperasi sekitar 2 sampai dengan 3 tahun ini. Hal ini tentunya tidak sesuai dengan keluhan masyarakat yang bertahun-tahun merasakan dampak dari pencemaran lingkungan/ udara dari limbah getah karet tersebut, ujar sumber yang enggan menyebut namanya, baru-baru ini.

Lebih lanjut dikatakannya, Ironisnya limbah getah karet ini selain mencemari sumur-sumur warga sekitar tentunya yang sangat dibutuhkan untuk konsumsi kehidupan sehari-hari, juga udara yang ada di sekitar lingkungan, lapak karet tersebut mengeluarkan bau tidak sedap yang tercium di perkampungan warga sekitar.

Parahnya, selama ini khususnya di Musholla samping lapak gudang getah karet ini membuat para jamaah yang menjalankan solat lima waktu tidak bisa menggunakan air untuk wudhu dikarenakan air sumur yang ada di mushola saat dipakai untuk wudhu membuat kulit warga terasa gatal-gatal, beber sumber ini kepada wartawan.

Terpisah, menurut keterangan Kepala Kampung Nambahdadi saat ditemui wartawan menjelaskan, pihaknya sudah beberapa kali menegur pemiliki lapak karet. Namun tidak diindahkan.

Berdasarkan hasil pantauan tim investigasi dilapangan, lapak tersebut malah semakin lancar beroperasi, karena terlihat digudang itu justru semakin banyak getah karet yang menumpuk.

Mau tahu tanggapan dari pihak-pihak terkait atas pemberitaan diatas, tunggu informasi selengkapnya dalam waktu dekat ini. Tim investigasi Fored akan membeberkan berita ini di 21 media cetak dan online. Siapa-siapa saja oknum-oknum yang terlibat dalam dugaan pencemaran lingkungan masyarakat Kampung Nambah Dadi, Terbanggi Besar, Lampung Tengah sehingga masyarakat bisa terlepas dari dampak yang membuat mengancam keselamatan kesehatan masyarakat membuat pengusaha ini terus bertahan sampai sekarang beroperasi. (TIM)

 

BAB IX: KETENTUAN PIDANA (Pasal 41)

  • Barang siapa yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan perbuatan yang mengakibatkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup, diancam dengan pidana penjara paling lama 10 Tahun dan denda paling banyak 000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
  • Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan orang mati atau luka berat, pelaku tindak pidana diancam dengan pidana penjara paling lama 15 Tahun dan denda paling banyak 000.000,00 (tujuh ratus lima puluh juta rupiah).

 

Pasal 42

  • Barang siapa yang karena kealpaannya melakukan perbuatan yang mengakibatkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup, diancam dengan pidana penjara paling lama 3 Tahun dan denda paling banyak 000.000,00 (seratus juta rupiah).
  • Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan orang mati atau luka berat, pelaku tindak pidana diancam dengan pidana penjara paling lama 5 Tahun dan denda paling banyak 000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah).

 

Pasal 43

  • Barang siapa yang dengan melanggar ketentuan perundang-undangan yang berlaku, sengaja melepaskan atau membuang zat, energi, dan/atau komponen lain yang berbahaya atau beracun masuk di atas atau ke dalam tanah, ke dalam udara atau ke dalam air permukaan, melakukan impor, ekspor, memperdagangkan, mengangkut, menyimpan bahan tersebut, menjalankan instalasi yang berbahaya, padahal mengetahui atau sangat beralasan untuk menduga bahwa perbuatan tersebut dapat menimbulkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup atau membahayakan kesehatan umum atau nyawa orang lain, diancam dengan pidana penjara paling lama 6 Tahun dan denda paling banyak 000.000,00 (tiga ratus juta rupiah).
  • Diancam dengan pidana yang sama dengan pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1), barang siapa yang dengan sengaja memberikan informasi palsu atau menghilangkan atau menyembunyikan atau merusak informasi yang diperlukan dalam kaitannya dengan perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), padahal mengetahui atau sangat beralasan untuk menduga bahwa perbuatan tersebut dapat menimbulkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup atau membahayakan kesehatan umum atau nyawa orang lain.
  • Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) mengakibatkan orang mati atau luka berat, pelaku tindak pidana diancam dengan pidana penjara paling lama 9 Tahun dan denda paling banyak 000.000,00 (empat ratus lima puluh juta rupiah).

 

Pasal 44

  • Barang siapa yang dengan melanggar ketentuan perundang-undangan yang berlaku, karena kealpaannya melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43, diancam dengan pidana penjara paling lama 3 Tahun dan denda paling banyak 000.000,00 (seratus juta rupiah).
  • Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan orang mati atau luka berat, pelaku tindak pidana diancam dengan pidana penjara paling lama 5 Tahun dan denda paling banyak 000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah).

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan