Bupati Mustafa Sukses Lestarikan Kebudayaan Lampung Dengan Gawi Agung

GUNUNGSUGIH – Melestarikan adat budaya Lampung serta untuk mengenalkan kepada masyarakat Indonesia bahwa kebudayaan adat Lampung di Lampung Tengah sangat beragam dan patut untuk dilestarikan. Bupati Lampung Tengah, DR. Ir. Mustafa menggelar Gawi Agung Bejuluk Beadek di Gunung Sugih, Rabu (19/07) dini hari.

Perhelatan Gawi Agung Bejuluk Beadek selain memberikan gelar dari kesuttanan adat Jurai Siwo kepada 311 kepala kampung dan lurah se-Lamteng juga tampak berkumpul para tokoh adat dari 9 kebudayan yakni Kebuayan Nunyai,  Unyie,  Subing, Nuban, Beliuk,  Selagai, Anak Tuha,  Nyerupo dan Pubian.
Rangkaian Gawi Agung Bejuluk Beadek diawali dengan kumpul di Lapangan Merdeka Gunungsugih pagi sekitar 07.30 WIB. Acara diawali dengan pentas sendra tari kolosal talikiang Anak Tuha, sambutan ketua panitia, dan sambutan Bupati atau Wakil Bupati Lamteng.

Kemudian 9 marga tersebut diarak sesuai dengan kebudayaan jalan ke Nuwo Balak (rumah dinas bupati). Lalu dari Nuwo Balak arakan dengan garuda dan pencak silat, 9 marga menuju vila Nurdin Muhayat. Di sana 9 marga dari kebuaian tersebut masuk ke dalam sesat agung.
Selanjutnya, di Sesat Agung tampak 9 marga melakukan Prosesi tari penganggik wajib atau dikenal dengan tari siang, yakni tarian antara laki dan perempuan berpasangan dari 9 kebuayan yang ada.
Usai itu dilanjutkan dengan besekhak beasah, lalu dinaikkan ke kelunjuk untuk melakukan besekhak baru dilakukan beasah atau pangor. Ini menunjukkan bahwa mereka sudah dewasa. Usai itu mereka diberi juluk atau nama panggilan anak penyimbang untuk anak laki-laki. Usai juluk dilanjutkan dengan temu dilunjuk dan turun mandi.
Dalam prosesi itu, laki-laki naik lunjuk berpasangan kemudian mereka dinaikkan di atas kepala kerbau dan disiram air. Dilanjutkan musek (suap) terakhir dari saudara dan orang tua. Usai musek baru pemberian adok (nama) untuk perempuan.
Setelah itu turun mandi atau bersih, di mana laki-laki memegang payan (nampan) dan ambil wudhu untuk bersih-bersih. Setelah itu dilanjutkan dengan kegiatan yang menjadi ciri khas adat Lampung, yaitu unduh buah pinang. Ini menyimbolkan sudah berakhirnya masa lajang.
Usai turun mandi mereka diarak lagi ke nuwo dengan naik jepano. Kemudian mempersiapkan diri menggunakan kawai balak, kepiah balak dan punduk. Sampai nuwo dilanjutkandengan naik dipano berpasangan dan nari ramik dan nari tuho/tari munggah bumie.

Rangkaian acara dilanjutkan pemberian adok kepada 311 tokoh masyarakat yang akan menerima gelar. Mereka diarahkan untuk naik sesat agung dan naik ke kursi pepadun/singgasana. Setelah duduk baru prosesi menyender baru pengukuhan adok kepala kampung.
Mereka diberi adok (gelar) suttan yang disesuaikan dengan kebuaian masing-masing untuk menjadi suttan di wilayahnya masing-masing.
Bupati Lamteng Dr. Ir. Mustafa mengatakan, Gawi Agung Bejuluk Beadek pertama kali diselenggarakan di Lamteng. Acara ini diharapkan mampu mengangkat kebudayaan dan adat istiadat Lampung secara luas.
“Ini adalah momen berharga untuk mengangkat kebudayaan Lampung secara luas. Selama ini masih banyak masyarakat yang belum mengenal adat istiadat dan kebudayaan Lampung. Kini saatnya, kita tunjukan bahwa kita punya kebudayaan yang patut kita banggakan dan harus kita lestarikan,” Kata Mustafa.
Ketua DPRD Lampung Tengah H. Djunaidi yang saat itu mendapatkan gelar Suttan Ketua Dewan Amangkurat. Menurutnya Gawi Agung Bejuluk Beadek adalah acara yang luar biasa. Dia meyakini perhelatan adat istiadat bisa menjadi alat pemersatu bangsa.

“Luar biasa sekali, ini pertama kalinya di Lampung Tengah. Meski saya bersuku Jawa, tetapi saya dibesarkan di Lampung dan telah menjadi bagian dari Lampung. Dengan adanya pemberian gelar adat, tentunya semakin menumbuhkan rasa memiliki, bahwa saya bagian dari keluarga Lampung,” katanya, Rabu, 19/7/2017.
Djunaidi menambahkan, kebudayaan dan adat istiadat juga menjadi identitas bangsa Indonesia yang kuat. Keberagaman yang ada menjadi kekuatan tersendiri bagi bangsa ini. “Karenanya saya harap kegiatan seperti bisa terus dilestarikan. Melalui momen ini, kita bisa meminimalisir perbedaan. Sebaliknya, kita menjadi bangga dengan kekayaan budaya yang kita miliki,” imbuh dia.
Senada disampaikan Kapolres Lampung Tengah AKBP Purwanto Puji Suttan yang menerima gelar adat Suttan Cakra Buana. Ia mengaku bangga telah menerima gelar adat dari kesuttanan adat Jurai Siwo.
“Ini artinya saya telah menjadi salah satu keluarga masyarakat Lampung. Tentunya bangga sekali. Kebudayaan seperti ini harus kita lestarikan. Saya apresiaisi sekali kepada bupati Mustafa yang telah menggagas acara ini. Semoga bisa berkelanjutan,” ucap Kapolres.
Dari pantauan media, Gawi Agung Bejuluk Beadek berlangsung lancar dan meriah. Acara dibukan tarian kolosal Tali Kiang Anak Tuha oleh pelajar Lampung Tengah.

Bupati Lampung Tengah DR. Ir. Mustafa, Wakil Bupati Loekman Djojosoemarto berserta 311 tokoh masyarakat penerima gelar adat diarak dari lapangan Merdeka Gunungsugih menuju Gedung Sesat Agung Nuwo Balak.
Acara ditutup di Sesat Agung Nuwo Balak dengan pemberian adok kepada 311 tokoh masyarakat. Mereka diberi adok suttan yang disesuaikan dengan kebuaian masing-masing untuk menjadi suttan diwilayahnya masing-masing
Sukses menyelenggarakan Gawi Agung Bejuluk Beadek, Bupati Lampung Tengah Mustafa mengaku bersyukur dan bangga bisa menjadi bagian dari kekayaan budaya yang ada Lampung Tengah. Pihaknya berkomitmen akan terus melestarikan kebudayaan yang ada.

“Ada Bali, Jawa, Sunda, Lampung dan kebudayaan lainnya. Ini adalah kekayaan yang harus kita jaga, kita lestarikan, dan kita kenalkan secara luas. Selama ini masih banyak yang belum mengenal kebudayaan Lampung secara mendalam, inilah saatnya, melalui Gawi Agung kita kenalkan luas budaya kita,” ujar bupati.
Ia juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak-pihak yang telah berpatisipasi menyukseskan acara tersebut. Begitu juga dengan ribuan warga yang turut meramaikan Gawi Agung Bejuluk Beadek.
“Insya Allah ini akan menjadi even tahunan di Lampung Tengah. Semoga apa yang menjadi target kita tercapai, budaya Lampung semakin dikenal dan secara sosial tidak ada lagi sekat antara pendatang serta penduduk asli atau pribumi,” pungkasnya. (Adv)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan