Abdul Rahman: PWI Tanggung Jawab Jadikan Wartawan Profesional

Abdul Rahman, SH selaku Ketua Bidang Organisasi PWI Tuba

“Jika kita melihat, banyaknya perusahaan pers yang menjamur khususnya di Provinsi Lampung, tentunya kita sangat perihatin saat membaca isi berita yang tidak memenuhi rumus dalam pembuatan berita tidak terpenuhi 5W + 1H, padahal rumus ini penting.”

TUBA, Tipikornewsonline.com – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), khususnya Kabupaten Tulang Bawang (Tuba), mempunyai tanggung jawab menjadikan wartawan Profesional dalam melaksanakan tugasnya sebagai pencari berita, dan pembuat berita.

Mereka yang menguasai informasi akan menguasai dunia, Begitulah falsafah lama yang berkumandang dalam menegaskan bagaimana wartawan atau insan pers sebagai pekerjaan yang strategis dan prestisius, hal ini diungkapkan Abdul Rahman, SH selaku Ketua Bidang Organisasi PWI Tuba, kemarin (07/2).

“Pekerjaan ini (Wartawan-red) mengemban tugas berat dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat, baik dengan tujuan untuk mengabarkan, menghibur, atau bahkan membentuk opini masyarakat,” kata Abdul Rahman, SH, saat dihubungi tipikornewsonline.com.

Lebih lanjut dikatakannya, tentunya PWI Tulang Bawang harus terus merencanakan program-program yang berkaitan dengan pelatihan wartawan yang bertugas di walayahnya secara tahap per tahap sampai semua wartawan yang ada di Kabupaten berjuluk Sai Bumi Nengah Nyappur ini handal dalam mencari dan membuat berita.

“Jika kita melihat, banyaknya perusahaan pers yang menjamur khususnya di Provinsi Lampung, tentunya kita sangat perihatin saat membaca isi berita yang tidak memenuhi rumus dalam pembuatan berita tidak terpenuhi 5W + 1H, padahal rumus ini penting.”

Masih dikatakan Abdul Rahman, untuk memberi tau pembaca dengan lengkap berita yang terjadi, Who – Pelaku, subjek. Siapa? Siapa yang melakukan? Siapa yang mengadakan? Siapa yang terlibat? Biasanya nama orang atau lembaga. What – Peristiwa. Apa? Melakukan apa? Mengadakan apa? Ngomong apa? Menyelenggarakan apa? Where – Tempat. Di mana diadakannya? Di mana terjadinya? Di mana lokasinya? When – Waktu. Kapan? Hari apa tanggal berapa? Iraha? Berpa lama? Why – Tujuan, latar belakang peristiwa.

Kenapa? Untuk apa? Apa tujuannya? Mengapa terjadi? Kenapa diadakan? Kenapa ngomong begitu? How – Detail peristiwa. Bagaimana ceritanya? Bagaimana kejadiannya? Prosesnya? Ada apa saja? urainya.

“Keenam unsur berita tersebut lalu disusun dengan mengacu pada format pemberitaan yang dikenal dengan istilah piramida terbalik (inverted pyramid), yakni mengedepankan unsur terpenting dalam peristiwa,” pungkas Abdul Rahman, SH. (Nov)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan